Thursday, October 18, 2012

Pelayaran Manusia

Sebagai seorang manusia berkembang dan bertumbuh memang sudah tentu hingga kelak seorang manusia harus kembali menjadi seperti pada awalnya mereka diciptakan. Seorang manusia selalu belajar, di usianya yang ke-19, Ia diberikan pelajaran namun ia belum cukup sampai mengerti. Meskipun ia sedikit banyak belajar. Kini usianya sudah bukan belasan, dipandang manusia lain bukanlah seorang yang masih kecil. Usianya sudah dewasa, dan ia juga sudah menyelesaikan sebuah tahap dalam kehidupannya yang cukup baik. Memang dikala belajar kita akan selalu mendapatkan ilmu, kini ketika ia sudah selesai ditempa, ia sungguh terkejut dengan kehidupan di luar. Mendegar saja memang tidak cukup dan tidaklah cukup menjadi pelajaran. Ia memiliki mimpi besar, mimpi besar untuk menyeberangi samudera. Setelah ia menamatkan pelajarannya ia mulai mempersiapkan mimpinya untuk berlayar. Dalam persiapannya ia bertanya ke manusia lain yang lebih senior mengenai pengalamannya berlayar. Manusia ini kehilangan arah, namun ia tidak mau terlihat seperti itu. Cerita perlayaran sang senior membuatnya sadar ia bukan sesiapa yang bisa melakukan pelayaran seperti itu. Ia baru saja kehilangan mimpinya. Ia berusaha bangkit seorang diri, menahan cerita pahit pelayarannya yang karam. Memang ia terlihat biasa, ia terlihat mampu dan masih selalu bercerita mengenai mimpi pelayarannya, ia ingin selalu terlihat optimis. Setelah ia sadar mimpi pelayarannya gagal, ia kembali membuka peta ia bertekad dalam hati meskipun sebentar ia harus bisa melakukan pelayaran lintas samudera. sebuah lokasi di peta menunjukkan tanda, dengan kanal di lokasi itu ia bisa berlayar lintas samudera. Namun banyak pertimbangan lagi untuk ia menuju lokasi itu. Dalam kebingungannya ia kembali ke rumah. Di hari pertamanya ia bersama manusia sahabatnya yang lain mencoba menciptakan mimpi yang lain. Namun lagi-lagi ia gagal. Kata orang-orang dulu lebih mudah ia menggapai mimpi jika ia belajar di kota seberang, nyatanya sama saja. Ia baru saja mengandaskan 2 mimpi, tetapi mimpi utamanya untuk mengarungi samudera itu membuatnya seperti tertelan di dasar samudera dan bertemu kraken. Belum ia bisa bangkit dari sana, deburan air sedikit membuatnya semakin gamang. Hidupnya yang tanpa orang lain tahu sedang carut marut semakin membuat ia makin tertelan di dasar samudera. Seperti ketika usianya belasan, ia kembali dihadapkan masalah yang sama. Belum benar ia bangkit, ia harus kembali tertelan dasar samudera. Ia berusaha menghadapinya, sekuat ia bisa. Ia berusaha paling tidak bangkit dari satu masalah, namun memang tidak semudah itu. Ia berfikir keras, Ia berfikir hingga ia menyadari usianya yang sudah tidak muda lagi. Usianya yang matang, ia berusaha menerima semuanya sebagaimana manusia dewasa seharusnya. Ia tidak pernah menyerah, ia berusaha menghadapinya sesuai dengan usianya sekarang. Ia berusaha mengerti hidup memang tidak semudah bermimpi. Ia berusaha untuk selalu menghadapinya, ia bukan lagi remaja meskipun badannya masih seperti remaja tetapi sudah tentu dan sudah seharusnya kali ini ia harus menghadapi suatu hal dengan dewasa. Meskipun satu yang ia tahu, memang tidak seharusnya hal yang pernah terjadi dahulu penyelesaiannya disamakan. Namun ia berusaha saja berusaha sesuai usia untuk menerimanya. Sabar dan selalu mengingat langit tidak pernah meninggalkan bumi.

No comments:

Post a Comment