Friday, March 2, 2012

Aku dan Sahabatku Rumput: Reka Ulang Coklat Karamel dan Pohon Saman

Semalam pembicaraan singkat dengan sahabat. Sebuah berita baik Ia sampaikan. Hai, sapanya. Aku sedang berada di tempat waktu kita menghabiskan senja sambil menyesap coklat karamel. 
Terlintas semua percakapan di sore itu, di balik kaca besar di ruangan itu kami berbicara, bercerita dan tertawa sambil menikmati pepohonan dan lalu lintas di seberang jalan. Pembicaraan yang tepatnya mengenai keluh kesah, teori rumput, teori dandelion dan teori kincir angin. Mungkin di balik kaca memang bukan tumbuh pohon Sycamore yang ketika musim seperti waktu itu daunnya jingga dan indah, di sana hanya ada pohon Saman  besar, pohon peneduh jalan khas daerah tropis, semuanya terlihat indah meskipun pembicaraan kami tidak menyenangkan. Kami menyusun semua kalimat menjadikan sebuah rangkaian janji dan mimpi akan apa yang seharusnya terjadi dan kita lakukan. 
Memang beberapa hari setelah pertemuan itu aku kembali terbang menuju kota lain dan kehidupanku setelahnya aku jalankan sama dengan rangkaian janji dan mimpi yang seharusnya aku lakukan. Semuanya berjalan lancar, meskipun terkadang selalu ada hal-hal yang membuat aku ingin menuju New York atau London segera. Kamu pasti tahu secara tepat, hal-hal duniawi dan munafik yang selalu membuatku ingin segera membaui rumput di Central Park ataupun berusaha mendengar riak air sungai Thames, hal yang itu-itu saja. Aku tidak akan membahasnya, aku cukup bosan dengan itu. Lebih baik aku akan melanjutkan cerita bukan tentang aku lagi tapi tentang sahabatku.
Dia selalu bercerita kepadaku, mengenai besarnya keinginan untuk kembali menjalani harinya bersama seseorang di masa lalu-nya. Namun seseorang di masa lalu-nya terlalu angkuh dan terlalu dingin, tetapi dia tidak menyerah. Dia bercerita padaku waktu itu sambil menyesap kopi miliknya, sebenarnya ia sudah mengumpulkan potret-potret mengenai seseorang itu juga mereka di masa lalu dan ia akan memberikannya di saat hari ulang tahunnya. Namun aku berkata kepadanya, bahwa aku sangsi, tetapi aku tidak dapat mencegahnya untuk berbuat itu. Tetapi pada akhirnya pun rencananya tidak Ia jalankan sama sekali. Rasanya hampir setahun lalu kami duduk di sana memandangi pohon Saman  dan memang terkadang selama setahun ini dia masih bercerita mengenai harapan-harapannya itu. Dan aku sendiri terkadang bingung menanggapinya, aku hanya berusaha memberinya semangat dan aku tidak tahu mendukung atau tidak karena aku merasa seseorang di masa lalu-nya tetap tidak menggubrisnya. Berjalanlah terus.... 
Dan kemarin ia mengabarkan sesuatu yang menurutku sangat baik, ketika semua harapannya memang berubah tetapi kini ia berjalan terus dan bersama seseorang lain. Seseorang yang berbeda, dan rasanya sahabatku bahagia. Apapun itu, sebentar lagi aku pulang sahabat, aku akan bersedia mendengar semua cerita barumu di tempat yang sama saat kita menyesap minuman di cangkir-cangkir putih. Menatap pohon Saman dan kembali tertawa bersama, mereka ulang setiap kalimat di tahun lalu dan membandingkan setelahnya. Aku tahu kebahagiaan itu selalu ada, dan kita sudah patut mendapatkannya. 
Meskipun kita tidak pernah melihat pohon Sycamore tetapi aku yakin semua kebahagiaan kita akan lebih tua dan lebih besar daripada pohon Sycamore....

No comments:

Post a Comment