Secangkir earl grey di cangkir favorit berwarna kuning, menyambut pagi dingin hari baru yang masih misteri. Air masih dingin, pun juga udara malas sudah tentu. Duduk di dekat bay window pagi masih samar, mungkin terlalu pagi untuk bangun, namun aku tetap berada di sana, sambil meneguk teh mengamati langit yang lambat tapi pasti berubah terang. Aku suka menikmati pagi, menikmati pergantian warna hari dan merasakan dingin, mungkin, tapi aku juga tidak tahu apakah itu yang menyebabkan aku terlalu dingin.
Pagi hari seperti saat ini, aku selalu nikmati dengan berfikir, berfikir apapun baik ataupun buruk. Pagi ini yang menurutku cukup cerah, aku berfikir segala sesuatu selalu diawali dari gelap hingga lalu menjadi terang. Sama seperti perubahan hari dimana bulan berganti matahari. Hari ini aku berfikir dan mengaitkan segala sesuatu yang samar, tentang alasan-alasan tidak masuk akal dan juga alasan-alasan bodoh yang berusaha membodohi diriku. Namun, aku selalu punya waktu luang untuk memikirkan alasan-alasan ataupun hal-hal bodoh supaya aku tidak akan pernah dibodohi. Mungkin aku selalu terlihat percaya dengan semua perkataan dan alasan, namun tentu saja tidak. Anggukan atau senyumanku belum tentu menandakan bahwa aku menerima semuanya tetapi justru sebaliknya, aku ingin tertawa seketika. Sama dengan pagi ini, alasan tidak masuk akal yang lalu, semakin membuat orang itu membutuhkan alasan lain, alasan lain yang lebih tidak masuk akal maksudku.
Pagi sudah tidak dapat dikatakan pagi, aku harus memulai aktivitas, rutinitas baru yang membelah perbukitan hijau. Berkawan aspal rusak, menikmati semilir angin perkebunan dan persawahan. Aku datang bukan untuk pesakit, tapi aku hanya meneliti, ya itu kerjaku saat ini. Meneliti terkadang membuat hari sia-sia, setengah hari membelah perbukitan belum tentu pulang ke kota dengan hasil. Di tengah ketidak jelasan kegiatan, bercerita adalah hal terbaik. Bercerita kepada sudut pandang lain, mengenai alasan. Dan aku sependapat dengan sudut pandang itu yang sesungguhnya sudut pandang itu adalah sudut pandang yang sama dengan orang itu. Aku tidak pernah mempercayai setiap kata terlebih kalimat, apalagi alasan. Alasan yang terlalu tidak masuk akal.
Orang semacam kamu, mengumbar kata dan alasan ini itu. Singkat kata munafik. Nyatanya semuanya justru terbalik bukan? Semenjak awal hingga saat ini, ketika gelap lambat tapi pasti menjadi terang...
Bahkan ketika semua plastik dalam hidupku sudah aku lenyapkan nyatanya justru kamu membuatku menyesal melenyapkan plastik. Seharusnya aku akan menggambar dan mendengarkan The Beach Boys sambil menari-nari bersama plastik. Maaf sebelumnya mungkin nada-nada yang kita dengarkan tidak sama. Terlebih untuk seleramu yang terbaru, maaf aku tidak bisa mengikuti, emmm sebentar jadi apa itu termasuk dalam alasan sesunggunya? Ah ya sudahlah ini terlalu membuang waktu sore hariku lagipula hujan di luar dan peach tea sudah digenggaman.
No comments:
Post a Comment