Rumputnya! Rumputnya! Rumputnya yang tidak dapat aku percayai lagi! Rumputnya jahat!
***
Ah, aku meracau! Pagi ini aku mendengar kicau burung dan juga suara khas musim panas dari kumbang-kumbang yang aku sesungguhnya belum pernah melihat, hanya kata beberapa orang yang aku tanyai mengenai suara itu menjawabnya demikian. Matahari mulai membumbung, panas mulai menyergap, aku bergegas menuju ruang menjemukan yang menyita sebagian hari-hariku. Lelah menyertai kantuk tak tertahan di tengah hari di musim panas ini. Aku menguap berkali – kali memandang deretan huruf yang dirangkai menjadi kata dan kata yang dikumpulkan menjadi sebuah makna pasti, ah aku dalam ilmu pasti! Aku mengetuk-ketukkan bootsku ke lantai, mencoba mengalihkan kantuk tak tertahan. Aku mencoba berkonsentrasi memahami segala kepastian ini.
Jarum jam bergerak satu putaran, aku pulang ke rumahku. Melewati aspal abu-abu yang panas dan menimbulkan fatamorgana. Terbuai dalam alunan suara seorang laki-laki dan membaca buku-buku fantasi, aku terlelap sejenak dalam cahaya matahari yang mulai menurunkan intensitas cahayanya. Aku terbangun dan mengetahui sesuatu, sesuatu yang harus aku cegah. Namun aku tidak tahu harus bagaimana. Sebenarnya ini bukan tentang rumputku, namun tentang semak belukar yang sesungguhnya semak belukar yang aku tahu sedikit banyak pernah menenangkan aku dalam berbagai penat tengah malam itu. Semak belukar itu adalah rumput-nya, bukan rumputku. Tapi aku mengetahui hal-hal yang semestinya tidak harus terjadi. Aku iba terhadap bunga pada semak belukar itu, aku tahu aku harus menolongnya, namun sungguh aku tidak tahu harus bagaimana.
Aku berjalan melintasi bukit pasir, mencoba berfikir keras apa yang harus aku lakukan. Namun sungguh, dalam hati kecilku aku ingin menolong bunga pada semak belukar itu. Dan aku kini tidak sanggup lagi mempercayai semak belukar itu. Sungguh, aku tidak tahu harus berkata apa. Lalu aku kembali ke rumahku dengan pemikiran yang hampa, dan sungguh hampa tentang ini. Aku di sapa dengan senyuman lembut sang bulan sabit. Dan lalu aku menemukan hal-hal lain, cacing yang menggerogoti sang semak belukar. Aku ngeri, sungguh wajahku mengeluarkan kengerian. Aku harus melakukan sesuatu namun aku tidak tahu harus apa. Cacing ini benar-benar harus dimusnahkan, itu sudah tentu. Dan aku lebih muak ketika cacing ini mencoba bertanya dan di balas dengan sesuatu yang agak berlebihan. Ah sungguh, aku harus melakukan sesuatu untuk bunga pada semak belukar, dan akan baik imbasnya padaku dan pada rumputnya semak belukar.
Dan sungguh, apa ini! Rona asam menggelayut di angkasa. Aku harus menyegarkannya! Dan aku akan menyelamatkan semua ini. Karena aku sama dengan bunga pada semak belukar itu, sama dalam artian feminisme. Dan aku akan menyelamatkan milikku karena aku tidak mau dia terjebak masalah ini. Sungguh, cacing sialan, semoga burung pemangsa segera memangsamu dan mengunyahmu. Aku harus menyiramkan manis untuk menyudahi rona asam ini.
No comments:
Post a Comment