Monday, April 18, 2011

kincir angin dan dandelion

Selamat sore matahari, terlalu terlambat aku menyampaikan salamku kepadamu. Maaf matahari, aku terlalu lelap hari ini. Aku lelah, aku lelah untuk menatap rumput hijau dan langit biru di seberang sana. Bahkan gula-gula manis yang masih baru itu tak tersentuh olehku sama sekali. Aku memperhatikan kincir angin kecil warna-warni di atas pagar yang di tiup angin sore. Adakah itu aku, aku yang berputar di tiup angin, menyengangkan di lihat namun menyakitkan. Tidak kah pernah kamu berandai-andai, jika kincir angin itu kamu. Kamu merasa bebas dalam porosmu, tapi kamu tidak menyadari bahwa ketika angin bertiup dan membuatmu berputar indah, porosmu di dalam ancaman. Perlahan porosmu keropos, kehilangan minyaknya hingga suatu saat kincir angin itu tidak akan berputar sama sekali. Dia masih berdiri kokoh di pagar, namun hanya diam diterpa angin dan hujan, sampai angin yang dahulu membuatnya indah justru malah membuatnya terjatuh ke bebatuan di bawahnya, teronggok hingga lalu terurai di dalam tanah.

Sebelumnya aku tidak pernah berandai-andai menjadi kincir angin, aku ini lemah lebih lemah dari kincir angin di tiup angin. Aku berkata kepada diriku sendiri,ternyata kekuatanku hanya sesaat. Aku hanya kincir angin, yang mampu berputar indah karena angin dan terjatuh pula karena angin. Aku terhenyak menatap sebatang dandelion kecil yang juga ditiup angin, meliuk lalu menebarkan bijinya. Bijinya terbawa angin lalu tumbuh dimanapun angin menjatuhkannya. Ah dandelion, kamu itu putih,kecil dan nyaris tidak pernah dipedulikan orang. Namun kisahmu begitu indah untuk aku lewatkan. Aku duduk berpangku tangan di jendela, membayangkan kincir angin dan dandelion. Keduanya sama ditiup angin. Yang satu indah ketika kincirnya berputar yang satu lagi hanya seperti debu samar. Namun aku baru menyadarinya, tidak perlu menjadi indah seperti kincir angin, tidak perlu menjadi sesuatu yang dilihat dan di sukai banyak orang seperti kincir angin. Tetapi jadilah dandelion, dandelion yang bahkan hanya sedikit yang menyadarinya, namun begitu indah kisahnya.

No comments:

Post a Comment