Friday, April 22, 2011

aku dan sahabatku rumput; tentang dandelion dan asaku


Hari kemarin aku awali dengan berlomba dengan tuan matahari. Aku terbangun ketika tuan matahari belum menyentuh langit di bagianku. Aku bergegas mempersiapkan diri untuk kembali sejenak ke rumahku. dan hari kemarin aku awali dengan menatapmu dan mendengarkan suaramu. Menatapmu yang selalu ingin kusentuh setiap saat, menatapmu yang selalu ingin kudekap. Ada kegembiraan di dalam tubuhku karena aku bisa menatapmu,menyentuhmu dan mendengarkan suaramu. Namun isak tidak pernah berbohong untuk menutupi kesedihan.

Lalu kamu mengantarku menuju landasan pacu. Tuan matahari yang mulai tiba di langit kita memancarkan sinar jingganya, dan aku terisak. Aku selalu ingin menatap tuan matahari yang indah seperti kemarin pagi bersamamu, tuan matahari yang bersinar sempurna di pagi hari. Tuan matahari menyapa aku dan kamu di perjalanan singkat kemarin pagi, dan aku sungguh-sungguh tidak dapat menahan emosiku untuk tidak terisak. Aku ingin hari itu aku tersenyum dan tertawa sambil menatap tuan matahari yang indah itu bersama kamu. Bukan dengan kesedihan yang menggelayut. Oh tuan matahari, aku sungguh minta maaf, aku tidak dapat mewujudkan imajinasi itu ketika engkau dengan sempurnanya memberikanku keindahan itu.

***

Dan aku tiba di rumahku. Lalu aku ditemani cokelat karamel berbicara dengan sahabatku, rumput. Aku bercerita tentang semua yang terjadi kepadanya, yang sesungguhnya secara tulisan aku selalu bercerita kepadanya, namun kali ini aku melisankan tulisanku dan berbicara kepadanya. Aku awali dengan meminta maaf kepadanya karena aku tidak dapat menjadi rumput seperti yang dia harapkan kepadaku, yang mampu bertahan dalam kondisi seperti apapun. Dan sahabatku rumput mengusapku pelan, dan berkata, “tidak apa-apa, itu pelajaran buat kamu, dan sekarang kamu sudah mengerti kan?” aku mengangguk dan menahan isakku. Sahabatku rumput memberiku cerita-cerita singkat tentang bagaimana aku harus menjadi.

Sahabatku rumput menuntunku tentang bagaimana seharusnya aku meluaskan pemikiranku bukan hanya meluaskan imajinasiku dalam kehidupan fiksiku,tetapi dalam kehidupan nyataku. Sahabatku rumput memberitahuku tentang perspektif kaumnya tidak seperti golonganku. Dia memberitahuku bagaimana kaumnya menghadapi persoalan. Sahabatku rumput berkata sekali lagi, “ingat,kamu harus menjadi seperti rumput yang mampu bertahan dalam kondisi apapun.” Senja menjelang dan aku menyesap cokelat dan karamelku, bertukar cerita dengan sahabatku yang sudah lama tidak kujumpai.

Tenangkanlah semua yang dalam diri kamu, yang kamu cari bukan tentang kesenanganmu tentang hari ini dan esok. Kamu mencari asa-mu bukan mencari rencanamu. Kamu pasti bisa, ingatlah kamu harus menjadi rumput yang mampu bertahan.” Aku mulai memahaminya, dan kini sudah dapat mengetahui langkah-langkah yang harus aku lakukan, untuk menjadi seorang rumput di kehidupan nyata,bukan kisah di fiksiku. Aku tidak akan mau lagi tubuhku pekat oleh kortisol dan noradrenalin hingga tubuhku sendiri tidak dapat beradaptasi seperti yang lalu.

Karena sahabatku rumput sudah memberitahuku semuanya dan sahabatku rumput membuatku lebih mengerti kaumnya. Terimakasih sahabatku rumput, maaf jika aku terlalu buta dan tuli dengan semua kata-kata yang sebenarnya sudah kau berikan. Maaf aku yang lalu terlalu larut dalam dunia golonganku. Dan kini aku membagi diriku menjadi seperti aku dan seperti kamu, dandelionku.

Dan aku berkata kepada sahabatku rumput, aku pasti bisa bersama dandelion menembus atmosfer dan bertahan di horizon, karena itu asa bukan rencana. Dan bersamaan dengan cokelat, karamel, dan senja yang mulai menyapa aku mulai dapat menangkap serotonin untuk mengurangi pekatnya kortisol di dalam tubuhku. Membuat gelembung-gelembung otakku menjadi lebih positif dan karena aku sudah menumpahkan semuanya kepada sahabatku rumput, dan sahabatku rumput sudah memberikan saran-sarannya yang kali ini memang sudah aku pikirkan kembali untuk memang seharusnya begitulah yang harus aku lakukan.

***

Dandelionku, suatu hari nanti kita akan bersama lagi menatap tuan matahari yang jauh lebih indah dari matahari kemarin pagi. Dan di dalam asa-ku suatu hari nanti aku dan kamu mampu bertahan di horizon dan menatap semua tempat yang ingin kamu dan aku kunjungi. Karena kamu dandelionku, tidak ada orang lain selain kamu yang membuatku mengetahui apa itu cinta. Seperti yang sudah pernah aku tuliskan dalam jurnal-jurnal beratus hari lalu.

Sahabatku rumput, terimakasih atas semuanya. Atas waktu yang aku rindukan untuk bercerita kepadamu. Atas semua kata yang kau ajarkan dan sepatutnya aku pikirkan itu. Dan aku berdoa semoga kamu,sahabatku rumput selalu bahagia atas kehidupanmu. Dan kita selalu berpayung di langit yang sama.

Semoga di hari ulang tahunku aku bisa mendapatkan kebahagiaan yang selama ini aku rindukan. Dandelionku, aku akan selalu ada untuk menjagamu.

No comments:

Post a Comment