selamat subuh,
kamu adalah sosok yang menghiasi ratusan jurnalku. yang terkadang di dalam jurnal itu aku menggambarkan kesedihan dan kegembiraanku. kegembiraanku adalah aku bersama kamu dan kesedihanku adalah aku tidak bersama kamu. kekasih, aku meminta maaf kepadamu atas khilaf dan ketololanku. kekasih, aku mencintaimu. kamu, dulu dan hari ini tetap sama seperti apa yang aku tulis di dalam jurnal-jurnalku. aku tidak membutuhkan gula-gula manis yang mampu menyenangkan hatiku, aku tidak membutuhkan diazepam untuk obat tidurku, aku tidak membutuhkan kilatan cahaya untuk membuatku tersenyum, aku tidak membutuhkan kesemuan itu semua. kekasih, kamulah yang menyenangkan hatiku. kekasih, hanya ketika berada di sisimu aku dapat tertidur pulas dan bermimpi indah. kekasih, hanya kamulah yang mampu membuatku tersenyum.
kepadamu aku membangun asa, atas rumput hijau yang luas dan langit biru yang cerah. kamu dandelionku di rumput hijau. asa itu aku bisikkan ketika aku meniup dandelion itu, asa itu aku titipkan di dalam harapan lilin ulang tahun, asa itu selalu ada di setiap saatku menjelang tidur, dan asa itu selalu aku suarakan kepada Yang Esa.
aku tidak pandai bercakap, apa yang aku ucap selalu tersaluti emosi. namun tidak dalam tulisanku. mungkin kamu akan lebih mengerti bila aku menuliskan semuanya. semua rasa yang aku rasakan pada awal hari ini. semua tetes air mata yang terselip doa dan maaf. aku merasa kalut di balik kabut di awal pagi ini. pagi ini dingin sekali, dingin yang terlalu menusukku. mungkin sepantasnya aku merasakan dingin yang seperti ini. aku sepantasnya merasakan dingin ini karena aku pernah menuliskan di jurnalku aku ingin menjadi es dahulu, ternyata aku bukanlah es yang kuat. aku hanya dinding es yang jika kau sentuh sedikit akan retak dan kembali mencair. aku es semu. tetapi dari semua kata dengan unsur es, adakah kamu mengingat teori gunung es-ku? aku tetap seperti itu, lagi-lagi aku salah, mengapa di saat aku mendapatkanmu kembali aku justru menggunakan teori gunung es itu, yang tampak sedikit dari luar tetapi nyatanya besar di dalam. seharusnya aku menyambungkannya dengan gunung vulkanik yang selalu mengiringi rasa ini. ketika gunung vulkanik itu meletus semua di dalam kita-pun hancur berantakan. dan lalu saat ini ketika statusnya naik apa yang di dalam kita-pun bergejolak. sebenarnya petunjuk yang Kuasa kepadaku adalah janganlah kamu menjadi gunung es itu, jadilah gunung vulkanik penanda arah mata angin Utara itu.
menjadi aku yang ternyata masih impulsif memang luar biasa jenaka. saat ini aku-pun menertawakan ketololanku itu sendiri. sesungguhnya semua doa dan asa yang selalu aku bisikkan kepada yang Esa itu sudah diberikan oleh-Nya. namun betapa aku luar biasa apatis dengan itu semua. sampai diberi hukuman oleh yang Esa aku baru menyadarinya. kali ini bukan shock therapy darimu tetapi dariku sendiri oleh Tuhan. trauma-trauma bodoh itu justru membuatku semakin impulsif,ketakutan dan tolol. sehingga aku justru melakukan apa yang menjadi ketraumaanku itu.
dandelionku, bahkan berjuta kata yang aku tuliskan mungkin tidak akan bisa melukiskan hari ini. aku kembali di hari dimana aku menuliskan kesedihan di dalam tulisan-tulisanku. aku meminta maaf, aku harap aku dapat bersamamu memperbaiki traumamu dengan sayangmu dan aku. dan ini aku yang kian lemah di hari-hari esoknya, aku ingin tertidur pulas di sampingmu, hari ini, esok, dan sampai aku tidak bisa menulis lagi.
dandelion abu-abuku,maafkan aku.
kamu adalah sosok yang menghiasi ratusan jurnalku. yang terkadang di dalam jurnal itu aku menggambarkan kesedihan dan kegembiraanku. kegembiraanku adalah aku bersama kamu dan kesedihanku adalah aku tidak bersama kamu. kekasih, aku meminta maaf kepadamu atas khilaf dan ketololanku. kekasih, aku mencintaimu. kamu, dulu dan hari ini tetap sama seperti apa yang aku tulis di dalam jurnal-jurnalku. aku tidak membutuhkan gula-gula manis yang mampu menyenangkan hatiku, aku tidak membutuhkan diazepam untuk obat tidurku, aku tidak membutuhkan kilatan cahaya untuk membuatku tersenyum, aku tidak membutuhkan kesemuan itu semua. kekasih, kamulah yang menyenangkan hatiku. kekasih, hanya ketika berada di sisimu aku dapat tertidur pulas dan bermimpi indah. kekasih, hanya kamulah yang mampu membuatku tersenyum.
kepadamu aku membangun asa, atas rumput hijau yang luas dan langit biru yang cerah. kamu dandelionku di rumput hijau. asa itu aku bisikkan ketika aku meniup dandelion itu, asa itu aku titipkan di dalam harapan lilin ulang tahun, asa itu selalu ada di setiap saatku menjelang tidur, dan asa itu selalu aku suarakan kepada Yang Esa.
aku tidak pandai bercakap, apa yang aku ucap selalu tersaluti emosi. namun tidak dalam tulisanku. mungkin kamu akan lebih mengerti bila aku menuliskan semuanya. semua rasa yang aku rasakan pada awal hari ini. semua tetes air mata yang terselip doa dan maaf. aku merasa kalut di balik kabut di awal pagi ini. pagi ini dingin sekali, dingin yang terlalu menusukku. mungkin sepantasnya aku merasakan dingin yang seperti ini. aku sepantasnya merasakan dingin ini karena aku pernah menuliskan di jurnalku aku ingin menjadi es dahulu, ternyata aku bukanlah es yang kuat. aku hanya dinding es yang jika kau sentuh sedikit akan retak dan kembali mencair. aku es semu. tetapi dari semua kata dengan unsur es, adakah kamu mengingat teori gunung es-ku? aku tetap seperti itu, lagi-lagi aku salah, mengapa di saat aku mendapatkanmu kembali aku justru menggunakan teori gunung es itu, yang tampak sedikit dari luar tetapi nyatanya besar di dalam. seharusnya aku menyambungkannya dengan gunung vulkanik yang selalu mengiringi rasa ini. ketika gunung vulkanik itu meletus semua di dalam kita-pun hancur berantakan. dan lalu saat ini ketika statusnya naik apa yang di dalam kita-pun bergejolak. sebenarnya petunjuk yang Kuasa kepadaku adalah janganlah kamu menjadi gunung es itu, jadilah gunung vulkanik penanda arah mata angin Utara itu.
menjadi aku yang ternyata masih impulsif memang luar biasa jenaka. saat ini aku-pun menertawakan ketololanku itu sendiri. sesungguhnya semua doa dan asa yang selalu aku bisikkan kepada yang Esa itu sudah diberikan oleh-Nya. namun betapa aku luar biasa apatis dengan itu semua. sampai diberi hukuman oleh yang Esa aku baru menyadarinya. kali ini bukan shock therapy darimu tetapi dariku sendiri oleh Tuhan. trauma-trauma bodoh itu justru membuatku semakin impulsif,ketakutan dan tolol. sehingga aku justru melakukan apa yang menjadi ketraumaanku itu.
dandelionku, bahkan berjuta kata yang aku tuliskan mungkin tidak akan bisa melukiskan hari ini. aku kembali di hari dimana aku menuliskan kesedihan di dalam tulisan-tulisanku. aku meminta maaf, aku harap aku dapat bersamamu memperbaiki traumamu dengan sayangmu dan aku. dan ini aku yang kian lemah di hari-hari esoknya, aku ingin tertidur pulas di sampingmu, hari ini, esok, dan sampai aku tidak bisa menulis lagi.
dandelion abu-abuku,maafkan aku.
No comments:
Post a Comment