Musim panas segera berakhir, rakyat kodok mulai bersukaria, dibalik ria itu para semut mulai gelisah. Menumpuk persediaan makan dan memperkokoh rumah-rumah mereka. Terkadang air sudah mulai turun di malam hari ketika semua terlelap, namun terkadang siang di tengah terik air turun sesuka hati. Sungguh memainkan hati. Hati semut berdesir mendengar suara tetes air hujan, hati kodok bergejolak menyambut air-air turun. Musim panas segera berakhir, musim panas segera berakhir. Udara panas mulai tereduksi, udara dingin mulai merayap di sekeliling. Seseorang memainkan nada-nada minor di balik jendela besar, sang kodok di tepi teratai memejamkan mata, pasukan semut bekerja 2 kali lipat lebih keras, memantau remah-remah roti di lantai.
Di ujung jalan, seorang yang mahir membetulkan payung mulai merapikan lapaknya, menghias lapaknya dengan tongkat-togkat payung, membersihkan debu-debu di balik besi-besi itu. Sementara di seberangnya seseorang dengan lesu menjajakan limun, hari mendung. Mereka bertatapan cukup lama dan cukup dalam. Pohon-pohon yang tumbuh di sekitar mereka bergoyang ditiup angin, daun-daunnya yang berguguran terbang melewati ke dua orang itu, membawa pesan tropis. "Enam bulan untukmu dan enam bulan juga untukmu". Mereka berdua sama-sama tersenyum dan menganggukan kepala, penjual limun menuang limun ke dalam gelas, lalu Ia menyebrang menghampiri tukang payung, memberikan gelas itu dan membantu tukang payung itu membenahi lapaknya. Hujan rintik-rintik mulai membasahi tanah, suara kodok mulai nyaring terdengar bersahutan, semut-semut bergegas masuk ke dalan rumahnya. Alunan nada-nada miror digantikan ritme dengkur tak seirama, tukang payung membuka payung kuning, kuning yang kontras dengan abu-abu di langit. Mengamit lengan penjual limun. Berhenti sejenak di tengah jalan itu. Hujan masih rintik-rintik, namun kelabu mulai bergeser menjadi jingga. Tukang payung menyisipkan logam mulia di balik jaket penjual limun, lalu menuntunnya lagi ke seberang jalan. Dengkur tak seirama dan suara kodok berpadu dalam rintik hujan, pasukan semut menghangatkan diri di rumah-rumahnya.
Penjual limun menutup gerainya, kembali ke peraduannya. Tersenyum manis kepada tukang payung. Tukang payung membalas senyumnya menatapnya dan kembali ke lapaknya dengan payung kuning melindunginya, detak jantungnya kini menambah paduan dengkur, suara kodok dan suara hujan.
No comments:
Post a Comment