Monday, March 14, 2011

Catatan si dude

Dude, gue lebih seneng kalo seandainya lo ga main layang-layang
Dude, gue lebih seneng lagi kalo bukan karena suatu penyesalan
Dude, gue capek aerobik terus up and down tapi body gue tetep aja kurus begini
Dude, katanya mah yang pasti-pasti aja, sebenernya pasti ga sih?
Dude, bukan dikata gue ga bisa nunggu lama, tapi kata temen gue udah ga jaman "makan ati"
Dude, gue tau banyak jalan menuju roma, tapi prinsip gue sih ya dude, cuma ada 1 jalan ke surga
Dude, setidaknya sih emang makasih gue bisa ngikutin trend galau
Dude, gue menikmati hidup gue sekarang dude!
Dude, gue beneran nih, gue bener2 menikmati kuliah gue.
Dude, gue mau jadi es dulu ya!

catatan si dude

Sunday, March 6, 2011

Hey

Maaf atas ketidakproduktifan saya akhir2 ini, saya butuh waktu lebih dari 24 jam per hari. terlalu banyak tugas2 yang menyita waktu dan juga kegiatan yang melelahkan. bukan maksud saya mengeluh, tetapi saya memang belum mampu menyeimbangkan semuanya. semoga semuanya bisa saya atur sedemikian rupa sehingga saya kembali produktif!


salam soda!

Thursday, February 17, 2011

visualisasi hari itu


itu dandelion hari itu, yang lalu aku tiup, lalu bertebaran ke seluruh gunung di hari itu.
panas yang menyengat rasanya menyejukkan dan menyenangkan.
tidak pusing ataupun merasa takut hitam.
namun nafsu menggebu di atas awan menantang matahari,mencari kebahagiaan di balik penat.

saat itu kita berdiri di salah satu tempat tertinggi di kota ini.
menatap kota dari kejauhan.
menatap langit dan awan.
berkelana di atas awan merasakan angin yang tidak bisa kita rasakan di kaki gunung.



namun mungkin kini dandelion-dandelion itu telah lenyap.
namun mungkin kini hanya ada debu dan kerikil.
namun tidak akan mungkin permohonan-permohonaku yang kuterbangkan bersama dandelion lenyap.
namun tidak akan mungkin aku mendebukan dan mengkerikilkan perasaan, karena akan selalu sama.
selalu sama seperti angin yang berhembus di gunung meskipun dandelion itu telah lenyap tersapu awan.


tulisan kamu dalam tanganku

Sunday, February 6, 2011

sing to you

I'm gonna make you proud
Keep your high from ever touching ground
I'll be your strength when you are feeling down

I will take away your pain
You know I'll make it better when I
Sing to you

I won't ever be too far
Turn on the radio
You'll hear in stereo
You will always be my star

Amely - sing to you (click this to watch the video)

Friday, February 4, 2011

terimakasih 28

terimakasih, meskipun kamu mengingatnya di tanggal 3, aku senang. terimakasih, aku juga tidak akan lupa, tapi aku tidak tahu harus berkata apa pada hari itu kepadamu. permohonan-permohonan yang sama di setiap tanggal 1 yang selalu aku ucapkan di dalam hati. permohonan-permohonan yang sama dalam 28 kali tanggal 1 pukul 6 sore. aku pemalu sebenarnya.
permohonan-permohonan yang sama sekali aku tidak pernah lisankan dan aku tuliskan. terimakasih, aku selalu sayang kepada kamu. aku selalu rindu tanggal-tanggal 1 di sebelum gunung itu meletus. aku ingin meniup dandelion permohonanku agar debu-debu dandelion yang di bawa angin membawa pesanku kepada sang Pencipta, agar aku dapat selalu menjagamu.

Tuesday, February 1, 2011

untitled ..

Ya aku pernah berfikir mengenai elang yang bebas terbang di udara waktu itu, aku berfikir bahwa sepertinya segala sesuatu lebih indah jika terbang bebas bersama elang. Menjadi yang paling di takuti. Beberapa orang berkata,“sudah terbanglah elang-elang itu akan membantumu terbang. Membuatmu terbang kemana pun kamu suka, dan kamu akan merasa bahagia”. Lantas aku berfikir singkat, ah ya teori-teori batu karang dan pantai terlalu sulit, lantas mengapa aku pun tidak terbang, melintasi cakrawala ini, menikmati hembusan angin.

Lalu aku tertidur dengan mimpi elang-elang membawaku melintasi Sahara, padang rumput di New Zealand, bahkan membawaku melintasi kotaku. Lalu aku terbangun, terduduk,tertegun lalu minum kopi. Ah aku sekarat…

Aku kembali lelap, namun aku tidak lagi dibuai mimpi untuk terbang. Hari itu aku duduk di salah satu pojok di ruanganku. Mencoba membayangkan diri sedang duduk di padang rumput yang di kelilingi debu-debu dandelion. Lalu aku teringat dandelion siang itu di puncak gunung. Beberapa waktu lalu aku meniup dandelion di puncak gunung, puncak gunung yang bahkan elang pun enggan melintas di atasnya.

Sore hujan turun, aromanya menyeruak di hidungku. Aroma kedamaian, persilangan air dan tanah. Lagu-lagu tak beremosi bersuara sendu seirama dengan senandung hujan sore itu. Lantas aku menuliskan sebuah puisi tentang hujan sore itu. Hujan sendu yang tandanya alam melarangku untuk keluar dari ruanganku. Aku menatap hujan dari balik jendela, cukup deras. Aku teringat suatu malam di hari-hari pertamaku di sini, aku menatap hujan yang turun. Malam itu aku merasa ringan, seringan hujan yang ditumpahkan angkasa.

Malam itu aku kembali terlelap, terlelap lebih awal. Aku mengenyahkan fantasi-fantasi buruk lalu berdoa kepada Pencipta agar suatu hari aku bias meniup dandelion di puncak gunung dan merasa ringan,seringan tetes hujan. Dan dalam lelap aku bermimpi mengenai daratan.

Hari itu aku terbangun di saat matahari masih malu-malu. Aku menuang segelas susu dingin ke dalam gelasku, dan aku kembali duduk di terkantuk di kasurku. Aku berfikir, aku memang tidak akan terbang, dan tidak mungkin terbang. Aku menyudahi fantasi-fantasi akan terbang. Dan aku tidak lagi pernah berfikir mengenai elang dan juga terbang.

“Kemana fantasi-fantasimu?”,orang selalu bertanya dan seperti mengancam. Aku hanya berkata, aku yang menjalani hidupku. Sejuta fantasi tidak akan pernah mampu menutupi hatiku. Adakah aku bahagia dengan fantasi? Aku terlihat bahagia saat berfantasi, namun tau kah setelah itu aku berlari ke dalam ceruk rahasiaku dan menangis? Aku tidak dapat berpura-pura aku sedang bahagia. Aku menjalankan apa yang pernah aku ucapkan dan aku tuliskan. Bagiku aku tidak akan mengkhianati ucapan-ucapan dan tulisan-tulisanku.

Saat ini aku membuka mata untuk visiku dan hatiku untuk misiku. Aku menikmati setiap air mata karena salah seorang yang kita kenal berucap “di setiap tetes air mata terselip doa”.

Dan suatu hari aku bisa meniup dandelion di puncak gunung itu, seperti sebuah foto yang bertengger manis di mejaku. Kamu dan gunung itu.


suatu ketika

suatu ketika di masa itu kamu merasa kamu adalah orang baik, maka memang tepatlah demikian kamu memang orang baik. namun suatu ketika jika kamu merasa kamu adalah orang jahat, maka memang demikianlah kamu adanya.

menuju suatu ketika tidak mudah.
suatu ketika aku menggambarkannya adalah gumpalan masa.
gumpalan-gumpalan masa yang ada karena kamu sendiri.
suatu ketika mengenai jiwa kita.
gumpalan masa mengenai jiwa kita.

bumi pun tidak akan ada jika tidak ada suatu ketika.
dahulu pun tanah yang dapat aku genggam hanyalah gas - gas yang pada suatu ketika mengeras.
jika suatu ketika kamu menyadari akan jiwamu, maka itulah kamu siap menuju ke gumpalan masa selanjutnya.

aku pun pernah mempunyai suatu ketika.
suatu ketika hari itu tanahku terguncang dan bergetar dan gas-gas kejahatan keluar dari sebuah lubang.
hari itu aku menangis sedu sedan.
hari itu puncak dari semua gumpalan masa-ku.

aku tidak mau lagi menjadi aku yang dahulu.
karena pada waktu itu aku berkata, suatu ketika aku akan berubah menjadi lebih baik.
suatu ketika,ketika kamu merasa diri kamu jahat, cepatlah kamu merubahnya menjadi sesutu yang lebih baik.
semua ucapan dan tulisan terdahulu akan selalu menjadi pemicu.
dan suatu ketika aku akan dapat mengerti dan merasakan seperti apa gumpalan masa ketika aku sudah tidak dapat lagi menghirup gas-gas di tanah ini.