Tuesday, February 1, 2011

untitled ..

Ya aku pernah berfikir mengenai elang yang bebas terbang di udara waktu itu, aku berfikir bahwa sepertinya segala sesuatu lebih indah jika terbang bebas bersama elang. Menjadi yang paling di takuti. Beberapa orang berkata,“sudah terbanglah elang-elang itu akan membantumu terbang. Membuatmu terbang kemana pun kamu suka, dan kamu akan merasa bahagia”. Lantas aku berfikir singkat, ah ya teori-teori batu karang dan pantai terlalu sulit, lantas mengapa aku pun tidak terbang, melintasi cakrawala ini, menikmati hembusan angin.

Lalu aku tertidur dengan mimpi elang-elang membawaku melintasi Sahara, padang rumput di New Zealand, bahkan membawaku melintasi kotaku. Lalu aku terbangun, terduduk,tertegun lalu minum kopi. Ah aku sekarat…

Aku kembali lelap, namun aku tidak lagi dibuai mimpi untuk terbang. Hari itu aku duduk di salah satu pojok di ruanganku. Mencoba membayangkan diri sedang duduk di padang rumput yang di kelilingi debu-debu dandelion. Lalu aku teringat dandelion siang itu di puncak gunung. Beberapa waktu lalu aku meniup dandelion di puncak gunung, puncak gunung yang bahkan elang pun enggan melintas di atasnya.

Sore hujan turun, aromanya menyeruak di hidungku. Aroma kedamaian, persilangan air dan tanah. Lagu-lagu tak beremosi bersuara sendu seirama dengan senandung hujan sore itu. Lantas aku menuliskan sebuah puisi tentang hujan sore itu. Hujan sendu yang tandanya alam melarangku untuk keluar dari ruanganku. Aku menatap hujan dari balik jendela, cukup deras. Aku teringat suatu malam di hari-hari pertamaku di sini, aku menatap hujan yang turun. Malam itu aku merasa ringan, seringan hujan yang ditumpahkan angkasa.

Malam itu aku kembali terlelap, terlelap lebih awal. Aku mengenyahkan fantasi-fantasi buruk lalu berdoa kepada Pencipta agar suatu hari aku bias meniup dandelion di puncak gunung dan merasa ringan,seringan tetes hujan. Dan dalam lelap aku bermimpi mengenai daratan.

Hari itu aku terbangun di saat matahari masih malu-malu. Aku menuang segelas susu dingin ke dalam gelasku, dan aku kembali duduk di terkantuk di kasurku. Aku berfikir, aku memang tidak akan terbang, dan tidak mungkin terbang. Aku menyudahi fantasi-fantasi akan terbang. Dan aku tidak lagi pernah berfikir mengenai elang dan juga terbang.

“Kemana fantasi-fantasimu?”,orang selalu bertanya dan seperti mengancam. Aku hanya berkata, aku yang menjalani hidupku. Sejuta fantasi tidak akan pernah mampu menutupi hatiku. Adakah aku bahagia dengan fantasi? Aku terlihat bahagia saat berfantasi, namun tau kah setelah itu aku berlari ke dalam ceruk rahasiaku dan menangis? Aku tidak dapat berpura-pura aku sedang bahagia. Aku menjalankan apa yang pernah aku ucapkan dan aku tuliskan. Bagiku aku tidak akan mengkhianati ucapan-ucapan dan tulisan-tulisanku.

Saat ini aku membuka mata untuk visiku dan hatiku untuk misiku. Aku menikmati setiap air mata karena salah seorang yang kita kenal berucap “di setiap tetes air mata terselip doa”.

Dan suatu hari aku bisa meniup dandelion di puncak gunung itu, seperti sebuah foto yang bertengger manis di mejaku. Kamu dan gunung itu.


No comments:

Post a Comment