Empat tahun lalu di bulan ini, seseorang belum menyadari apa yang akan dijalaninya. Mimpi buram yang Ia paksakan fokusnya. Belum menyadari apapun dan Ia hanya mempersiapkan kegilaan menyenangkan untuk hari-hari barunya. Menceritakan bagaimana nanti Ia menjalani hari-hari barunya kepada sahabat-sahabatnya, berburu baju-baju yang akan selalu membuat hari-harinya outstanding, menceritakan mimpi fotografinya kepada orang tuanya, menjelajah seluruh halaman Ikea untuk inspirasi tempat tinggal barunya, mengemas buku-buku dan boneka-boneka beruang kesukaannya di dalam kardus besar, mimpinya akan menunggangi kuda hewan kesukaanya, hingga mempersiapkan alat tulis baru. Ia belum sadar betul, Ia meninggalkan mimpi terbesarnya sedari kecil hanya setelah Ia mendapatkan mimpi sesaat yang jelas Ia tidak tahu apa. Ia tidak pergi ke ahli tafsir, Ia terus melaju tanpa tahu seperti apa.
Ia dulu bercita-cita menjadi perancang, perancang apapun. Ia bercita-cita menjadi perancang fashion sejak usia 6 tahun dan Ia membuktikannya dengan beberapa baju hasil rancangannya, Ia juga bercita-cita menjadi perancang gedung dan kota, Ia buktikan kesungguhannya dengan belajar tentang hal itu lebih dari anak lain sepulang sekolah, Ia pun bercita-cita menjadi perancang taman, dan Ia buktikan dengan selalu membantu ayahnya mengatur tanaman-tanaman di rumahnya. Ia nyaris mendapatkan kesempatan untuk menggapai citanya menjadi perancang fashion tepat di poros dunia tersebut, dan Ia sebenarnya sudah mendapatkan kesempatan untuk menjadi perancang gedung, namun Ia menolaknya karena Ia tahu Ia mendapatkannya bukan sesuai standar lokasi yang Ia tetapkan. ITB.
Sebenarnya Ia tidak terpengaruh Grey's Anatomy. Bahkan Ia tidak tahu apa yang Ia pilih. Pengumuman ujian masuk membuatnya berfikir gegabah, beberapa teman terdekatnya ingin melanjutkan sekolah kedokteran, namun yang Ia tahu pasti, dokter tidak pernah ada dalam list cita-citanya. Entahlah Ia hanya melihat di dalam sebuah list, Ia memilih sekolah kedokteran dengan konsentrasi pada nutrisi. Ia memilih setelah membaca sebuah newsletter mengenai keadaan anak-anak di Indonesia Timur. Ia tidak memilih sekolah teknik sebagai pilihan pertama, namun pilihan kedua. Tengah malam di hari pengumuman ujian, melalui pesan singkat sebuah pesan selamat Ia terima. Saat itu juga Ia menghubungi teman-temannya dan saat itu Ia tahu beberapa dari mereka tidak mendapat pesan yang sama.
Euphoria membuatnya hilang kendali, Ia lupa cita-citanya. Dan Ia secara resmi menjadi mahasiswa di sana. Bahkan di masa orientasi Ia sempat mengalungi medali. Medali yang Ia dapatkan karena euphoria dan Ia belum menyadari hari-harinya. Ia masih menyebar senyum, masih merasakan dingin yang sejuk, masih senang...
Lalu hari-hari menjadi tidak seperti yang Ia bayangkan sebelumnya, menderita insomnia setahun penuh di awal hari-harinya, kesulitan mengantur uang, tugas-tugas kuliah yang Ia benci namun tetap Ia selesaikan, ruang kuliah yang mengingatkannya pada ruang kelas pada saat les, hal-hal yang tidak cool, transportasi yang terkadang tidak memungkinkan menjadi seorang pengguna public transportation, cuaca panas yang ekstrim, dan banyak hal yang Ia tidak dapat ungkapkan.
Namun, Ia tetap menyelesaikan tugas akhirnya. Dan hari Rabu Ia akan benar-benar menyelesaikannya, Ia menyelesaikannya dengan sempurna meskipun Ia tahu dosen-dosennya bisa mencari ketidaksempurnaannya dan menyuruhnya mengerjakan revisi. Namun Ia sadar jika hal itu terjadi Ia akan mengerjakan revisi tersebut dengan sempurna, karena Ia menjalani empat tahun kehidupan yang bukan mimpi sempurna-nya tanpa revisi. Dan empat tahun kehidupannya di sini Ia tidak pernah menyesal, karena Ia berhasil mengalahkannya dengan menyelesaikannya di bulan Agustus. Bulan depan. Dan Ia sadar Ia tidak mendapatkan nilai tertinggi, tidak cumlaude tetapi Ia menjalankan semuanya dengan baik karena Ia menjalani mimpi buramnya. Dan dengan ukuran mimpi buram Ia mendapatkan nilai tertinggi. Kehidupan setelah mimpi buram, mungkin Ia akan mengusapnya sehingga jelas. Seperti embun di kaca. Ia percaya Ia selalu bisa menghadapinya. Tunggu medali untuk kehidupan mimpi jelasnya!
No comments:
Post a Comment