Wednesday, March 20, 2013

Tidur di Rumput




Siapa sih yang tidak rindu memandang rumput dan langit senja seperti ini dengan bebas. Mungkin ada saja sesiapa di sana, tapi tentu bukan aku. Mungkin kameraku rusak saat ini lensanya sudah payah menangkap cahaya, mungkin hatiku menggebu ingin menangkap refleksi seperti waktu itu, lalu aku tertidur. Begitu saja.
Ini aku di dalam mimpi, duduk di rumput dengan topi jerami berlagak remaja padahal sudah dewasa. Memandang tanah di antara rumput yang tumbuh, beberapa lubang pori-porinya nampak, mungkin kelak di sana tumbuh rumput. Suara bising burung besi mengejutkanku dari kesibukan berfikir mengenai tanah. Tidak terlalu penting.
Ini aku masih di dalam mimpi, berdiri tegak menantang matahari yang hendak tenggelam. Menyipitkan mata, mengaku kalah terhadap matahari, namun aku menyimpan setiap momen di mana matahari beranjak tenggelam hingga aku kembali membesarkan pupil mataku. Lalu aku kembali berjalan pulang. Pulang ke tempatku tinggal di sana. Lalu aku tertidur di dalam mimpi, tertidur di tempat biasa aku berfikir keras bertahun-tahun belakangan ini. Terbangun sebentar sambil menonton acara serial di televisi. Memekik girang menahan suara melihat idola muncul di layar televisi, tertidur entah pukul berapa. Kembali terbangun bukan karena suara kokok ayam jantan, terbangun karena Epiphania bernyanyi. Terbangun di saat terindah dalam keadaan tertentu di pagi hari, bukan di pagi hari seperti biasa. Dan mimpi ini terlalu nyata untuk dinyatakan mimpi. Pagi di dunia nyata juga mulai beranjak menuju siang. Terbangun, terkejut dan tertegun.
Lalu aku berfikir mengenai rumput yang aku rindukan. Suatu saat aku kembali namun yang aku rindukan hanyalah benar-benar meraih rumput di gambar itu, seperti itu. Aku memaksa.

Salam rindu untuk rumput di sana. Aku sudah pindah. Tapi mungkin, aku di dunia yang lain masih menjalani duniaku yang dahulu. Salam rindu juga, tolong bilang aku rindu.

No comments:

Post a Comment