Saturday, September 1, 2012

Persahabatan, Kelulusan, dan Perpisahan

Kami bertemu di usia kami belasan, masih baru saja menanggalkan seragam, dan menyandang predikat maba. Penampilan kami kala itu belum sekeren sekarang, tapi untuk ukuran empat tahun yang lalu kami keren. Kami dulu bertiga bersama-sama berangkat kuliah, lalu sepulang kuliah kami bertiga suka menjelajah Jogja atau sekedar bermain bersama di kostan. Di awal kuliah kami bermain basket dan menyoraki kami yang bertanding basket juga pergi ke sekaten. Lambat laun persahabatan kami berkembang, kami lalu bersahabat dengan yang lain, kami tidak lagi bertiga tetapi kami bersembilan mungkin bersepuluh. Namun kelak di akhir kami kini bersahabat bertujuh, rasanya setiap persahabatan selalu mengalami lika-liku pahit manis, pun juga kami. Kami sering bertengkar satu sama lain, memang kami tidak baik-baik sekali hahaha. 
Kebanggaan bagi kami, di tahun ini, kami semua lulus. Di wisuda bersama, dua diantara kami cumlaude dan yang satu lagi menyandang predikat lulusan termuda. Senang bukan kepalang, kami semua berdandan cantik di pagi buta, memukau kawan-kawan lain. Kami sangat bersemangat menuju ruang wisuda, meskipun jauh sebelum hari kami di wisuda kami bersaing soal kebaya tetapi nyatanya hari itu kebaya kami sama-sama cantik. 
Hari ini sahabat saya yang pertama saya kenal di Jogja ke kampung halamannya, di pulau seberang. Sedih sudah tentu, apalagi saya gagal bertemu dengannya di stasiun. Kami berdua sering bersama, bahkan dulu saya takut kalau dia menyukai saya hahaha. Dia selalu ada di saat saya senang maupun sedih bahkan terpuruk. Dia yang tertua di antara kami, dan dia sahabat yang pertama saya punya di Jogja. Di sepanjang perjalanan saya terus berfikir. Jauh sebelum hari ini saya sudah pernah menuliskan mengenai perpisahan sewaktu bersekolah juga mengenai persahabatan saat bersekolah, yang saya sadari adalah, mereka adalah sahabat saya. Mereka bukanlah orang-orang yang kebetulan bertemu di Jogja lantas menjadi dekat, tetapi mereka adalah sahabat saya. 
Senang rasanya memiliki sahabat lagi, tetapi mereka tidak menggantikan satu sama lain. Bukan artinya memiliki sahabat di saat berkuliah lantas sahabat saat bersekolah hilang. Tetapi mereka sama-sama memiliki ruang di otak dan hati saya. Saya berfikir, perbedaan terbesar bagi sahabat saat bersekolah dan kuliah adalah perpisahan.
Ketika kita berpisah dengan sahabat-sahabat kita sewaktu sekolah kita hanya berpisah sementara waktu, dan kita pasti akan bertemu di kemudian hari, di saat liburan. Karena mereka semua tinggal di kampung halaman kita dan kita dibesarkan di sana, dan di sanalah kita kembali. Namun, berbeda dengan sahabat saat berkuliah, mereka tidak semuanya berasal dari kampung halaman kita, mereka berasal dari seluruh ujung penjuru. Lantas empat tahun lalu saya pernah menuliskan hal ini :

"ya, gue sadar, kalo sudah saatnya kita kuliah, kuliah di tempat yang luas, tersebar, yang terdiri dari ribuan orang di sana, yang klimaks-nya mereka ga kenal lo! mereka bukan teman sma lo, mereka adalah orang asing.
oke gue semakin ngerti, gue ga akan ketemu temen2 gue di sma lagi. mereka akan ada jauh dari kita, bukan hanya berjarak puluhan kilometer. tapi ratusan kilometer. gue semakin nangis, ketika gue sadar, kita semua ga akan pernah lagi ada barengan di satu gedung lagi, kita akan ada di gedung yang berbeda, beda kota, beda provinsi, mungkin beda pulau"

Yang saya semakin sadar, justru saat ini orang asing itu harus kembali ke tempat asalnya, pun juga diri kita dan kita kembali lagi ke dalam empat tahun lalu, bertemu sahabat-sahabat lama. Yang pasti kesempatan bertemu sahabat-sahabat di saat berkuliah pastilah tidak semudah sahabat-sahabat di saat bersekolah. Semakin kita beranjak besar memang segalanya membutuhkan hal yang lebih besar pula. Tetapi saya juga menuliskan ini:


"tapi satu hal yang masih bisa buat gue tersenyum… kita masih di bawah langit yang sama. langit yang sama gelapnya ketika malam, langit yang sama cerah-nya ketika siang. beratus - ratus kilometer jarak kita semua, kita tetap selalu ada dalam lingkaran semu persahabatan kita, yang dinaungi satu langit mega luas."


Sampai jumpa semuanya, senang rasanya ternyata orang asing yang saya takut-kan empat tahun lalu adalah kalian, kalian yang justru membuat saya tidak siap meninggalkan tempat asing ini. Kenangan bersama kalian akan selalu ada, selalu ada bergiga-giga di komputer saya dan juga di otak saya. Kenangan bersama kalian lebih indah daripada foto instagram, tidak perlu efek khusus dan tidak perlu diunggah. Terimakasih telah memberikan masa depan dari empat tahun lalu yang begitu indah. Kita akan berjumpa lagi dan wajah kita tidak akan pernah keriput! 

No comments:

Post a Comment