Pembicaraan sepintas lalu mengenai teman, membuat ingatan melayang ketika masih berseragam putih merah, ketika masih menjadi Pramuka Siaga.
Anak kecil berponi dengan tas dorong berwarna pink bergambar burung kenari kuning sangat semangat menarik tasnya menuju ruang kelas. Hari baru di tahun ajaran baru, namun si anak kecil yang tergolong murid baru itu merasa sedih, seorang sahabatnya yang berambut panjang tidak lagi bersekolah di situ. Namun sahabat-sahabatnya yang lain masih dapat membuatnya tertawa riang. Anak itu tidak pandai main lompat tali, tidak suka berlari-lari di lapangan, tetapi dia suka duduk di pinggir lapangan tertawa berbagi bekal bersama sahabat-sahabatnya. Ketika pulang sekolah dan sudah tiba di rumah, sebuah amplop tertulis nama pengirim, dengan jelas dia membaca itu surat dari sahabatnya yang berambut panjang. Dengan riang ia membaca surat itu, di surat itu sahabatnya bercerita di sekolah barunya dia sudah bertemu teman-teman baru dan bahkan sudah menyukai anak laki-laki, cerita polos anak-anak, terlampir juga sebuah foto sahabatnya tersebut ketika berulang tahun. Dengan semangat anak itu pun membalas surat tersebut dengan kertas bergambar kesukaannya dia menceritakan semua yang terjadi di hari itu bagaimana ia dan teman-temannya menghabiskan hari. Dengan sigap ia berlari mengambil telepon tanpa kabel jarinya dengan cekatan memencet nomor, menelepon sahabatnya yang lain untuk memberi tahu sahabatnya yang berambut panjang baru saja mengiriminya surat. Mereka tertawa dan senang, sahabatnya berpesan supaya anak tersebut jangan lupa membawa surat dan foto sahabat mereka yang berambut panjang tersebut. Keesokan harinya, anak itu sudah menyiapkan surat sang sahabat, dengan muka berseri-seri ia menghampiri sahabat-sahabatnya menunjukkan surat dari sahabatnya tersebut. Salah seorang di antara mereka anak laki-laki eksentrik yang sangat akrab dengan anak itu, dia dengan tidak pedulinya berujar bahwa ia menyukai si sahabat berambut panjang dan dia merasa sedih, anak itu dan sahabat-sahabatnya berusaha menghiburnya, menyimpan surat tersebut dan membuka majalah anak-anak membaca cerita-cerita di dalamnya. Mereka kembali riang hingga bel sekolah berbunyi, majalah dan surat tersebut kembali di simpan oleh si anak itu, dan mereka mengikuti pelajaran.
Saat ini kami sudah tidak seperti waktu berseragam putih merah, komunikasi seadanya, dan mungkin hanya setahun sekali mengucapkan selamat ulang tahun. Aku si poni, sahabatku si rambut panjang melanjutkan kuliah di bidang pangan, sahabatku si laki-laki eksentrik nyatanya semakin nyentrik dengan gaya modisnya dan hobinya sebagai pelakon. Saat-saat seperti ini aku merindukan ketika kami bermain boneka bersama di sekolah, diam-diam membawa mainan ke sekolah, ataupun ketika kami terkejut ketika si anak laki-laki keluar dari balik pintu dengan bibir biru dari pemulas warna. Persahabatan tulus tanpa akal bulus, persahabatan tulus yang polos tanpa persaingan, persahabatan tulus yang ceria, persahabatan tulus anak berseragam putih merah.
No comments:
Post a Comment