Wednesday, June 22, 2011

Cerita dalam Fiksi Perempuan Timur

Tidak lantas aku dapat menerima sebuah maaf. Lantas semua ini tidak berarti? Kecupku saat kamu berulang tahun? Semua usahaku hanya untuk membuatmu bangga? Bukan hanya aku, tetapi kamu menghancurkan beberapa. Aku benar-benar merasa bodoh, aku rasa hari-hari lalu aku sudah berhasil menjadi pahlawan bagi mereka yang kau hancurkan. Nyatanya itu tidak berarti. Lupakah kamu terhadap kisah lalumu? Masya Allah, aku saja yang begini tidak dapat lupa. Itu cambuk! 
Sungguh yang aku mau hanya membunuh orang yang menghancurkan aku dan mereka. Aku ingin mencungkil matanya, menusuk kerongkongannya dengan besi panas sehingga dia dapat merasakan neraka di dunia ini. Surga Firdaus mungkin tidak dapat aku raih, dan bahkan aku tidak tahu dimana surga itu berada sekarang. Aku melihat surga itu neraka. Aku mengerti dan tidak pernah membayangkan ini.
"Setan telah menjadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka, lalu menghalangi mereka dari jalan (Allah),sehingga mereka tidak mendapat petunjuk. " (QS. 27/An.Naml:24)
Lalu setan apa yang merasuki tubuhmu, percuma dan sia-sia ibadahmu. Percuma dan sia-sia pencitraanmu. Aku tidak tahu. Pergilah setan yang merasukimu! Pergilah!
Senangkah dirimu menatapku terbaring lemah dan sakit, menatap mereka menangis? Adakah dirimu mengingat masa lalumu? Cambukmu! Apalagi yang kau cari dari dunia ini? Semua ini fana? Apakah yang kau dapat dari ibadahmu? Apakah ibadahmu mengajarkan hasrat birahi? Apakah ibadahmu menunjukkan jalan duniawi? Apakah ibadahmu mendalilkan kedustaan? 
Aku perempuan pahlawan kesiangan yang gagal dari Timur. Aku membawa kitabku, berlutut di hamparan padang pasir, yang hanya singgah di oasis untuk menyembuhkan dahagaku. Ini kehidupanku yang ingin aku jalani dan aku tidak ingin hidupku sepertimu. Aku akan tetap bertahan di gurun ini, melawan terik, Chasbiyalloohu wa ni'mal wakiiyl.

No comments:

Post a Comment